01 April 2010

Pengendalian Emosi

Bunda ini orangnya tidak sabaran. Sore-sore ketika ayah baru pulang dari Kantor, Kalila ingin bermain Shark Attack dengan komputer Ayah. Ketika sudah dinyalakan, ternyata volumenya terlalu keras, Bunda memintanya untuk mengecilkan volumenya karena tidak baik mendengar suara terlalu keras. Dia menolaknya sambil tetap memegangi tombol volume.

Saat itu Bunda sambil marah-marah berkata "Bunda telinganya normal, Kakak telinganya normal, jadi seharusnya bisa mendengar suara sekecil ini." sambil tangan Bunda mengecilkan volume.

Akibatnya : Kalila menangis keras sekali dan memukul keyboard komputer dengan kencang. Bunda butuh penenangan diri dulu. Karena baru selesai membaca bukunya Mba Maria, Anakku tidak (mau) sekolah, jadi ingat bahwa marahnya diberi penjelasan dengan bahasa yang bisa dimengerti.

Akhirnya Bunda kembali ke Kalila yang masih menangis (sebelumnya Bunda duduk di pojok kamar pindah kesamping Kalila di tempat tidur). Bunda menjelaskan lagi secara baik-baik setelah sebelumnya menyuruhnya menghentikan tangisnya. Bunda telinganya sehat, tidak sakit, jadi bisa mendengar suara pelan. Kalila telinganya sakit tidak ? Tidak jawabnya. Jadi, kalau tidak sakit seharusnya bisa mendengar suara yang pelan seperti ini. Dengar tidak Kakak ? Dengar Bunda, jawab Kakak.

Setelah itu Bunda meminta maaf karena sudah marah-marah dan Kalila langsung menangis memelukku sambil meminta maaf juga.

Anakku yang sholeha...maaf ya Kak..

2 comments:

  1. iya Mba..Walau teorinya udah sering denger tapi dalam pelaksanaannya harus sering diingetin lagi :) Thanks for sharing your story...

    ReplyDelete